Air mataku lebih berguna untuk mereka yang kusayangi.
Satu hal yang tak kan pernah kau ketahui dibalik tatapan mata ini. Sesuatu yang hanya Tuhan dan aku yang tahu. Sesuatu yang membuatku meneteskan air mata ini, setiap aku mengingatnya. Sesuatu, yang dapat disebut rasa. Rasa yang tak pernah hilang dan pudar.
Rasa ini ditutupi oleh kebencian, kemurkaan, dan kekecewaan. Dan saat kebencian, kemurkaan dan kekecewaan ini pergi, mendung datang. Air pun menetes dengan riangnya di pipi mungil ini. Apa yang harus kuperbuat?
Aku tak ingin melepaskannya. Karna rasa ini masih ada. Walaupun tertutup benci, murka, dan kecewa.
Dua pikiran yang tak kan pernah disatukan karena perbedaan. Perbedaan yang membuat kita terpisah. Kita berbeda, jalan pun kita berbeda. Apa lagi yang perlu disatukan?
Air mata ini jatuh karena
Rasa sayang ini.
Bodohnya aku. Senantiasa menanti. Sesuatu yang tak pasti, untuk apa dinanti? Untuk membuat diri ini lebih sakit?
Andai mulut ini dapat berkata, dan kau dapat menerimanya. Aku akan berkata,
Rasa sayang ini ada di sini.
Satu hal yang tak kan pernah kau ketahui dibalik tatapan mata ini. Sesuatu yang hanya Tuhan dan aku yang tahu. Sesuatu yang membuatku meneteskan air mata ini, setiap aku mengingatnya. Sesuatu, yang dapat disebut rasa. Rasa yang tak pernah hilang dan pudar.
Rasa ini ditutupi oleh kebencian, kemurkaan, dan kekecewaan. Dan saat kebencian, kemurkaan dan kekecewaan ini pergi, mendung datang. Air pun menetes dengan riangnya di pipi mungil ini. Apa yang harus kuperbuat?
Aku tak ingin melepaskannya. Karna rasa ini masih ada. Walaupun tertutup benci, murka, dan kecewa.
Dua pikiran yang tak kan pernah disatukan karena perbedaan. Perbedaan yang membuat kita terpisah. Kita berbeda, jalan pun kita berbeda. Apa lagi yang perlu disatukan?
Air mata ini jatuh karena
Rasa sayang ini.
Bodohnya aku. Senantiasa menanti. Sesuatu yang tak pasti, untuk apa dinanti? Untuk membuat diri ini lebih sakit?
Andai mulut ini dapat berkata, dan kau dapat menerimanya. Aku akan berkata,
Rasa sayang ini ada di sini.
