Dia terbaring di depanku. Tangannya ditusuk agar cairan dapat masuk ke tubuhnya. Aku tahu, cepat atau lambat dia akan meninggalkanku. Dia selalu tersenyum, tertawa, dan wajahnya selalu membawakan keceriaan. Sekarang, aku tidak dapat mempercayai bahwa dia terbaring di kasur rumah sakit, dengan hawa dingin dan aroma rumah sakit yang khas.Aku tak dapat melupakan waktu yang kami habiskan bersama. Hal-hal aneh dan lucu yang kami sempat lakukan. Aku menggenggam tangannya erat, mengelusnya dengan lembut. Apa yang dapat kulakukan agar malaikat yang tersesat ini tidak menemukan jalan pulang? Perlahan aku melepaskan genggamanku, tapi berat rasanya. Aku rela menahan lapar agar aku dapat melihatnya lebih lama. Hari-hari cerah sekarang berubah menjadi kelam.
Hujan mulai turun, membuat hawa semakin dingin. Aku melihatnya, wajahnya tenang, sedikit tersenyum, dan aku tak tahu apa jadinya aku jika dia meninggalkanku. Bagaimana jika aku menerima karangan bunga bertuliskan "Turut berduka cita", aku belum siap. Tak ada gunanya mengandai-ngandai, semuanya telah terjadi. Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukanku dengannya, walaupun hanya sebentar. Tuhan tahu yang terbaik untuknya dan untukku. Tapi apa gunanya aku tanpa dia. Mungkin aku akan menjadi mayat hidup yang terus meratapi kepergiannya.
Aku melihatnya lagi. Sekarang, dia sedikit menggerakkan kepalanya, tak lama kemudian dia membuka matanya. Tangannya masih berada didekapan tanganku. Hangat rasanya. Dia tersenyum. Senyum yang cepat atau lambat tak dapat kulihat lagi. Matanya dapat menceritakan apa yang dia rasakan. Dia merasakan sakit dan ingin mengakhiri semua ini. Ingin rasanya melihatnya tak merasakan sakit lagi, tapi berat rasanya untuk melepaskannya.
Seseorang datang untuk menggantikan jadwalku menjaganya. Aku menolak. Jika ini waktu terakhirku dengannya aku tak mau menyi-nyiakan itu. Aku ingin selalu ada di sampingnya. Tangannya berbalik menggenggam tanganku, lalu dia tersenyum kepadaku. Tangisku mulai pecah dan dia mulai mengucapkan mantra-mantra agar aku tak menangis dan aku tahu kalimat mantra yang dia sering ucapkan, cepat atau lambat aku tak akan mendengarkannya lagi. Dia sering menasehatiku, menuntunku di kehidupan yang kelam ini, membuatku tersenyum, melakukan hal bodoh yang membuatku tertawa.
Aku sempat lupa, besok adalah hari ulang tahunnya. Dulu dia pernah berkata padaku bahwa orang yang sakit di hari ulang tahunnya, umurnya takakan panjang. Tapi aku hanya membalasnya dengan tertawa dan dia ikut tertawa. Aku tak mempercayai yang dia katakan. Aku sudah menyiapkan kue kecil untuk merayakan ulang tahunnya. Aku berharap ini bukan yang terakhir.
Tiga minggu yang lalu, dia drop dan harus dilarikan ke rumah sakit secepatnya dan tiga minggu yang lalu, aktivitas yang biasa kulakukan lumpuh total. Aku merawat dan menemaninya. Hari demi hari telah berlalu, kondisinya semakin melemah. Aku tak sanggup mendengar perkataan dokter. Dokter selalu bilang umurnya tak panjang lagi. Memangnya dokter siapa? Dokter bukan Tuhan, dia tak tahu umur seseorang. Semakin lama, dia menjadi jarang berbicara. Dia hanya tersenyum, menandakan dia baik-baik saja. Tetapi dibalik kata "baik" pasti ada buruk.
Dia terlihat lelah. Aku tak ingin dia lelah dengan semua yang dia rasakan. Aku ingin dia bersemangat untuk hidup. Tangisanku mulai pecah, sementara genggaman tangannya mulai melemah. Matanya mulai tertutup. Dokter dan perawat mulai memasuki ruangan. Tanpa kusarari, seseorang yang tadi masuk memanggil dokter tanpa sepengetahuanku. Para perawat memaksaku keluar. Aku hanya dapat menurutinya. Aku terduduk lemah di depan pintu.
Para tamu berdatangan memberikan karangan bunga dan memberi ucapa duka cita. Aku hanya dapat menatap foto yang diberdirikan di atas peti, dan dibalik peti tersebut terbaring kaku orang yang sangan kusayangi. Sekarang hari ulang tahunnya. Aku tak dapat merayakannya. Tangisanku mulai pecah kembali. Seseorang mengelus punggungku. Aku ingat saat dia mengelus punggunggku. Aku tak tahu bagaimana keadaan mukaku saat ini. Mungkin hidung, mata, dan pipi merah. Aku ingat saat dia ditutup dengan kain rumah sakit, dia seperti tertidur pulas, tidur panjang.
Mungkin ini jalan terbaik agar dia beristirahat dari penyakitnya yang keparat. Kita akan bertemu kembali. Cepat atau lambat....
Yang Tak Dapat Kau Lihat Kembali
Firyal Salsabila
DeveloperCras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.


0 comments:
Posting Komentar