Bunga bunga itu bergerak. Menunjukkan ada yang bergerak didekatnya. Gerakan itu berjalan menuju ke arahku. Dan datanglah kau.
Kau merawatku, menyiramiku, bahkan kau lah yang membuatku mekar ditengah kesunyianini. Kita bermain, bercanda. Kau tahu aku tak dapat berpindah dari posisiku, tetapi kau selalu menemaniku. Kita tersenyum. Kau tersenyum karenaku, dan aku tersenyum karenamu. Kita tertawa. Tawa yang belum pernah kau lepaskan sebelumnya.
Suatu saat, kau menghilang. Saat kau telah mengantarku ke tidurku. Kau menghilang cukup lama. Dan aku menyerah.
Tapi kau kembali. Kembali dengan senyuman itu. Lukisan terindah yang pernah dilukiskan Tuhan. Senyuman yang mampu membuatku bodoh. Aku pun tersenyum. Aku pikir, senyuman ini dapat menenangkanmu. Aku pikir, senyuman ini dapat membuatmu terus bersamaku selamanya.
Jika Tuhan mengijinkanku untuk bertanya, aku akan bertanya, misteri apa kah ini? Mengapa Tuhan mempertemukannya denganku?
Kau pergi...
Ternyata bukan hanya aku yang kau lihat. Aku hanyalah bunga biasa yang berharap untuk dicinta. Apakah aku pantas dicinta? Jika pantas, mengapa kau meninggalkanku? Aku melihat kearahmu. Lebih hangat, lebih dekat, dan lebih nyaman saat kau bersamanya.
Ternyata, "kita" hanyalah bayangan. Hanya ada aku yang terlena oleh madumu, dan kau yang sedang memilih bunga. Hanya ada aku yang hanya berdiri disini, menantu untuk dipilih, dan waktu yang selalu menghantuiku. Dan ada kau yang sedang bermain di kebun dihari yang cerah ini. Selama ini, tidak ada kita, hanya kau dan aku. Kau di jalanmu, dan aku di jalanku.
Tapi Tuhan mempertemukan kita bukan karena kebetulan. Tuhan mempertemukan kita karena suatu alasan. Dan aku menunggu apa alasan itu.
Ini bukan akhir dari cerita ini..
Kau memilih bunga yang lebih sempurna disana. Aku hanya terdiam melihatmu bahagia. Aku ingin ikut bahagia, namun sayatan didalam tak dapat membiarkanku tersenyum lepas. Aku mencoba tersenyum. Tetapi, semakin besar senyum yang kubuat, semakin kencang jeritan didalam dada ini. Rintihan ini, rintihan yang tak dapat kau lihat dan kau rasakan. Tetapi, rintihan ini semakin merintih ketika kau berpaling.
Mau kau apakan aku ini?
.jpg)

0 comments:
Posting Komentar