Langkah Kecil di Torbay

by 20.00 0 comments
Penulis yang handal adalah dimana dia dapat membuat cerita disaat dia gak mood bikin cerita.

Pukul 7.00a, hujan sudah membasahi jalan di depan apartemenku. Untung hari ini libur, aku tidak harus berjalan ke kampus menerjang dinginnya hujan. Musim gugur datang lebih awal, dan sekarang sudah hampir musim dingin. Matahari jarang menampakkan dirinya. Mau tidak mau, aku harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli dua gelas kopi setiap pagi. 

Hampir dua tahun aku meninggalkan Indonesia. Rindu rumah rasanya. Torbay berbeda jauh dengan Indonesia. Walaupun dekat dengan pantai, udaranya masih tetap dingin. Aku harus menunggu dua tahun lagi agar dapat merasakan hawa panas pantai di Indonesia. 

Papaku menyuruhku kuliah di Torbay jurusan bisnis. Tujuan papa, mungkin agar aku dapat melanjutkan perusahaan yang dipimpinnya saat dia sudah tua nanti. Sungguh bukan tipeku. Sebenarnya, aku ingin masuk jurusan design interior dan kuliah di New York. Tapi papa membentak permintaanku mentah mentah. Apa boleh buat? Daripada aku harus menghabiskan sisa hidupku di rumah menjadi ibu rumah tangga.

Di Torbay, aku punya kerja sampingan. Aku kerja disalah satu kafe kecil di dekat kampusku. Uang jajan yang papa berikan padaku cukup banyak. Aku hanya ingin mempunyai kegiatan dan tidak hanya mengerjakan tugas di apartemen.

Rintik hujan masih terdengar. Perut kosongku juga meraung meminta makan. Aku berjalan menuju dapur dan membuka kardus sereal gandum. Aku menuangkan sedikit kedalam mangkuk dan menambahkan susu kedalamnya. Sambil berjalan kearah ruang televisi, aku menyambar roti dan membawanya. Apartemenku tidak kecil dan tidak luas, sederhana, tetapi karena penataan terpatnya bagus, apartemenku terlihat rapi dan nyaman.

"halo, pa?" Tiba-tiba papaku menelponku.
"Apa kabar?" Papaku berbicara diseberang sana
"Im good. What about you dad?"
"Good too. Papa punya kado spesial buat kamu" Papa berkata dengan bahagia, dan membuatku penasaran.
"Pa, papa lupa ulang tahunku kapan? March 13th daad?"
"Iya papa inget. I just wanna give you a ticket to go home darling"
"Yang bener? you said i cant go home till the graduation" Aku berteriak kegirangan.
"Enggak, mama sama papa udah kangen. Dua minggu lagi udah liburkan? Sayang kamu gabisa ngerasain musim dingin, karena kamu harus pulang" Bilang papa pura-pura kecewa
"Gapapa. Thanks dad"
"Anything for you baby. Papa istirahat ya. I miss you"
"Okay, Im with you"

Waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya besok jadwal keberangkatanku pulang ke Indonesia. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku setelah sampai di sana.

Saat aku berada di pesawat, aku berpikir. Impianku sejak kecil memang untuk menjelajahi dunia ini, bereksperimen dengan sesuatu yang baru. Meninggalkan tanah air tercinta untuk waktu yang tidak sebentar. Mungkin aku akan menemukan pendamping hidup ditengah perjalananku. Tapi suatu saat ketika aku sudah mulai menua, aku hanya ingin kembali kerumah. Tempat dimana aku dilahirkan, yang suatu saat nanti akan menjadi tempat dimana aku disemayamkan. Seberapa besar cintamu kepada dunia, pada akhirnya kamu sadar, siapa sesungguhnya yang kamu cintai dan kamu sayangi. Sesuatu yang membuat dirimu berkorban. Mungkin, dengan aku kuliah di Torbay adalah langkah pertamaku memulai perjalananku. Tapi pada akhirnya, aku tahu pada siapa aku mengabdi.


Firyal Salsabila

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments: