late at night

by 22.08 0 comments
K A M U

kamu teman. hanya sekedar teman. teman baik, sampai orang bilang kita bukan teman.

pukul sepuluh malam, saat aku benar-benar ada di puncak kejenuhanku. kertas tugas berserakan, sedangkan aku sibuk dengan laptopku. aku acak acak rambutku, lalu kuselipkan ke belakang telingaku, suara erangan keluar berulangkali dari mulutku, mengeluh. ponselku berdering, seketika aku memalingkan mukaku dari laptopku, membaca notivikasi yang ada di layar ponselku. 

still awake?

bagitulah isi dari pesan yang dia kirim. segera aku menjawabnya, memberitahunya bahwa aku masih terjaga. mataku kembali terpaku pada layar kaca. mengetikkan kalimat-kalimat panjang. kembali aku silakan rambutku ke belakang. hanya ada suara nafas beratku yang terdengar. sengaja aku tidak menyalakan musik untuk menemaniku. kali ini, aku butuh konsentrasi lebih.

pukul sepuluh lewat tiga puluh tepat, saat ponselku kembali berdering. aku membukanya, dan membaca pesan singkat yang masuk

aku di depan

kamu. kamu kembali mengejutanku dengan pesan "aku di depan". hal ini sering terjadi, tetapi, entah mengapa, setiap kali kamu mengirimkan pesan bertuliskan "aku di depan" aku selalu terkejut. malam ini dingin, aku melihatmu mengenakan jaket. percayalah padaku, aku selalu senang melihatmu memakai jeans, dengan jaket ber-hoodie abu-abu, bertuliskan LAkers, dan kaos polos berwarna hitam.

suara pintu pagar yang terbuka, membuatmu menoleh ke arahku sambil membetulkan kacamatamu. seperti biasa, kamu sedang bersandar di kap mobil silvermu. di bawah sinar bulan yang cukup terang, aku dapat melihat kulit bersihmu, rambutmu yang sedikit acak-acakan dan mulai gondrong, dan tatapan tajammu tak pernah dapat kuhindari.

hei

tanpa membalas sapaanku, kamu berjalan menuju pintu penupang dan mengambil kantong plastik yang entah berisi apa. jangka kakimu lebar, tak perlu waktu lama, kamu sudah berada di depanku, mengisyaratkanku untuk masuk, dan kamu menutup pintu pagar.

di luar dingin

kata pertama yang kamu ucapkan setelah berada di ruang tamu. kamu memimpin jalan menuju ruang makan sambil melepas jaketmu. aku berjalan mengikutimu, menatap punggungmu yang lebar dan luka bekas cakaranku masih ada di tengkukmu.

kamu datang ke rumahku. ku lihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas lewat dua puluh lima menit. aku membukakan pintu untukmu, sambil mengelus-elus sikuku karena udara dingin. ku lihat raut wajahku, pertanda buruk. rahangmu kaku, tatapanmu tak bersahabat, langkahmu cepat. kamu berjalan di depanku, sebelum memasukki ruang tengah, kamu sudah memalingkan badan melihatku.

"are you crazy?!" bentakmu. mengejutkan semua saraf yang ada di badanku.
"whaat?" reflek aku menjawabnya. menunjukkan muka bertanya yang benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang dia bicarakan.
"you're dating with him? seriouslly, could you just kill me rather than i see you have date with him" kamu mengatakna tanpa berkedip, menatapku tajam, dan tanpa menarik nafas tambahan.
"it's just a date, I'm not in love with him" balasku membela diriku
"oh God, you couldn't be crazier than this. i tell you, i dont like you with him. you know he's jerk, he's asshole, and he's just gonna leave you and breaks your heart"
"eassy, you dont know him, and he's not gonna break my heart because I'm not in love with him" 
"and now you're defending him" balasmu dengan tatapan tajam dan mendekatkan mukamu di depan mukaku.
aku terdiam, menunduk dan berpikir.
"what? I'm gonna say this to you, if you dont wanna end your relationship with him now, so you dont give me any option, you want everyone think you're bitch"

emosiku meluap, meluap tinggi melebihi rata-rata. reflek aku melayangkan tanganku untuk menamparmu. belum sampai tanganku menyentuh pipimu, tanganmu mendahului menahan tanganku dan membantingnya. kau palingkan badanmu membelakangiku, berniat meninggalkanku, tapi, jari-jari dengan kuku panjangku menggores tengkukmu, menyebabkan darah keluar dari tengkukmu, lalu aku terjatuh saat kamu menoleh kearahku. aku menunduk, menutup mukaku, dan tanpa kurencanakan, air mata ini menetes. aku menangis, menangis atas apa yang kulakukan, menangis karena membuatmu marah, menangis karena telah mnyakitimu. 

kamu duduk di depanku. mengambil tanganku yang mulanya menytupi wajahku. tatapanmu berubah, yang aku lihat adalah tatapan bersalah keluar dari matamu. isak tangisku mulai terdengar. tanpa perintah kamu mememlukku.

setelah aku reda dari tangisku, kita berbicara. kamu menjelaskan semua yang kamu ketahui tanpa emosi, aku pun menanggapinya dengan lapang dada dan dengan pikiran yang terbuka. selesai membicarakan semua, aku mengobati luka cakaran di tengkukmu. terlihat darah menetes sedikit di kaos putih yang kamu kenakan.

kamu menaruh kantong plastik yang kamu bawa di atas meja makan. sudah kuduga sebelumnya, kamu membawa makanan.

"do you bring some food?" tanyaku sambil menyondongkan badanku kearahmu yang sedang mengambil dua buah piring
"yap" balasmu singkat sambil memalingkan badan dan berjalan kearah meja makan.
"are you crazy? What time is it? for God's sake. its 10.30. its already late for dinner. kamu bawa piring dua gaberguna, aku gamakan" jelasku
"when was the last time you ate?" tanyamu sambil menoleh ke arahku
aku memutarkan bola mataku, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku makan.
"naah" lanjutnya sambil menarik kursi, mempersilahkanku duduk

kamu adalah tipe lelaki yang rapi, tetapi tetap maskulin. kamu makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. aku memuji table mannermu.

ayo nonton tv

setelah merapikan meja makan, kamu mengajakku melihat tv. seperti biasa, kita selalu melihat saluran 272, [v] channel. kita selalu mengomentari video klip artis ternama dengan gaya yang sok. berakting bahwa kita profesional dalam bidang ini. kenyataannya tidak, kita hanya bercanda. aku mulai gerah. aku mengikatkan rambutku menjadi satu.

oh, no, dont do that again. i cant

itulah kalimat yang selalu keluar dari mulutku saat aku mengikatkan rambut ikalku menjadi satu. dulu, kamu bercerita kalau kamu suka melihat perempuan yang sedang mengikatkan rambutnya menjadi satu di belakang, dan jika aku yang melakukannya, itu adalah kelemahanmu, hatimu bagai dilelehkan kobaran api, dan sejenak kakimu tidak dapat menopang berat badanmu.

gausah alay

aku salalu membalas demikian. merendahkan diri, dan sekaligus bercanda.

kamu. kamu adalah lelaki yang selalu mengerti apa mauku dan apa maksudku. kamu adalah lelaki yang selalu ada di dekatku. kamu adalah segalaku. saat aku ditimpa masalah, sebelum aku menghubungimu, kamu sudah ada untukku. saat putus cinta, kamu selalu memberikan pundakmu untukku. 

aku. aku adalah perempuan yang selalu butuh perhatianmu. aku selalu butuh bantuanmu, aku adalah perempuan tempatmu mengadu, tempatmu bercerita, dan tempatmu menanyakan tentang perempuan. aku adalah perempuan yang tak jarang kamu gunakan percobaan untuk menyatakan perasaanmu kepada perempuan yang kau sukai. 

aku. aku adalah perempuan yang menyayangimu. kamu. kamu adalah lelaki yang menyayangimu. tak perlu ikatan darah untuk membuat kita saling menyayangi. tetapi, semua yang kita lakukan tak bermaksud apa-apa, kamu menjagaku karena kamu sayang. aku menjagamu karena aku sayang. kita tahu kita tidak dapat bersama. itu takdir kita.

kita berteman sangat baik.


Firyal Salsabila

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments: